Pemerintah menyuntikkan dana Saldo Anggaran Lebih mencapai Rp 400 triliun ke sistem perbankan nasional guna memperkuat likuiditas serta memacu pertumbuhan ekonomi, seperti dilaporkan Detik Finance pada Selasa, 4 Agustus 2026.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa penempatan dana tahap awal sebesar Rp 200 triliun dilakukan setelah berkoordinasi dengan pihak perbankan yang mengeluhkan ancaman krisis likuiditas pada pertengahan Juni 2026 lalu.
"Ya, kita rapat lah dengan mereka. Anda mau apa? Saya mau pemerintah terus membantu likuiditas di perbankan. Ya sudah kalau gitu, yang Rp 200 triliun saya taruh di perbankan sampai akhir tahun, mungkin akan saya perpanjang sampai tahun depan," ujar Purbaya dalam GAIKINDO Indonesia International Auto Show di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Selasa.
Pemerintah kemudian menambah suntikan dana sebesar Rp 200 triliun lagi untuk mendorong percepatan aktivitas ekonomi masyarakat. Langkah intervensi ini diharapkan dapat memacu perbankan dalam penyaluran kredit kendaraan bermotor.
"Harusnya nih sekarang-sekarang nih, 2 minggu yang lalu saya inject lagi uang sistem itu yang Rp 400 triliun itu. Harusnya sekarang sih demand untuk mobil, motor sudah mulai recover. Kalau masih kurang, nanti besok saya, hari ini saya tambah lagi sampai jumlahnya cukup di perekonomian," beber Purbaya.
Data pemerintah menunjukkan penjualan kendaraan sempat melemah pada April hingga Mei, sebelum akhirnya kembali meningkat pada Juni pascasuntikan likuiditas. Purbaya menegaskan efektivitas penyaluran dana tersebut terus dipantau secara berkala.
"Jadi, ketika data turun seperti itu, saya periksa uang yang digelontorkan ke perbankan masih efektif nggak? Kan Anda ingat kan di awal September saya gelontorkan Rp 200 triliun uang pemerintah dari dari BI ke perbankan. Banyak orang bilang itu nggak ada gunanya," ungkap Purbaya.
Kebijakan penempatan dana SAL di bank-bank nasional ini dipastikan bakal terus dievaluasi dan ditambah jika kapasitas likuiditas dinilai belum mencukupi kebutuhan pasar.
"Ah, kalau ada yang ngomong gitu, Anda harus ngerti bahwa dia nggak ngerti ekonomi. Karena begitu kita gelontorkan kan mulai naik nih," terangnya menutup.






