Realisasi penyerapan hasil panen beras petani dalam negeri oleh Perum Bulog mencatatkan angka melebihi 3,5 juta ton setara beras hingga awal Agustus 2026. Angka tersebut kian mendekati target tahunan yang ditetapkan sebesar 4 juta ton.
Capaian penyerapan ini dilansir dari Detik Finance menjadi penguat Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dalam menjaga stabilitas pasokan serta harga pangan nasional. Penguatan fungsi ini juga didukung penetapan regulasi anyar dari Badan Pangan Nasional (Bapanas).
Kebijakan tersebut tertuang dalam Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 3 Tahun 2026 yang mengatur skema pembiayaan penugasan Bulog secara lebih terukur. Melalui aturan ini, margin penugasan Perum Bulog ditetapkan sebesar 7 persen.
Penetapan besaran margin dihitung dari total biaya pengadaan beras dalam negeri ditambah biaya kemasan setelah dikurangi hasil penjualan produk samping. Hasil perhitungan tersebut dibagi kuantum pengadaan setara beras untuk mendapat margin per kilogram, lalu dikalikan 7 persen.
Mekanisme penghitungan berbasis biaya riil dan komponen produk sampingan ini sebelumnya belum dimuat dalam Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 7 Tahun 2025. Nominal akhir margin nantinya ditetapkan Bapanas berdasar hasil reviu aparat pengawasan pemerintah.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menilai penyesuaian ini sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi lembaga yang dipimpinnya. Kebijakan ini dinilai memberi ruang operasional yang lebih kokoh bagi Bulog.
"Intinya dengan diberikan kenaikan margin fee jadi 7%, itu merupakan penghargaan dari pemerintah. Ini kan reward dari pemerintah karena Bulog mendukung keberhasilan pemerintah memperkuat swasembada pangan," ujar Rizal dalam keterangan tertulis, Kamis (6/8/2026).
Selain penyesuaian margin, Bulog menerima penyesuaian skema pembiayaan perbankan yang memangkas beban operasional. Suku bunga pinjaman bank untuk tugas pelayanan publik ini mengalami penurunan signifikan.
"Suku bunga pinjaman bank turun dari 8% menjadi 5%. Di mana dari 5% itu, 3% di antaranya dicicil Bulog, sedangkan yang 2% disubsidi oleh pemerintah. Itu kan syukur sekali, kita bersyukur sekali," ungkap Rizal.
Kelonggaran finansial ini dialokasikan kembali untuk meningkatkan pemeliharaan gudang, perawatan stok, serta mutu beras CBP yang disalurkan kepada masyarakat luas.
"Kami akan meningkatkan pemeliharaan dan perawatan beras-beras Bulog sehingga beras yang disalurkan kepada rakyat adalah beras yang terbaik dan berkualitas," pungkasnya.
Kondisi Stok Pangan Nasional
Di sisi lain, Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman mengonfirmasi bahwa ketersediaan pangan secara nasional berada pada posisi aman. Total akumulasi pasokan di lapangan dan gudang Bulog dinilai mencukupi kebutuhan jangka panjang.
"Kami laporkan pangan kita aman. Standing crop stock kita di Horeka dan standing crop tambah bulog, itu totalnya 26 juta ton, itu setara 10 bulan. Kalau 10 bulan mulai dari sekarang, Agustus, September, Oktober, November, Desember, Januari, Februari, Maret, itu melampaui tahun depan, Maret sudah paling puncak (panen)," ujar Amran.







