Perahu Tradisional Jukung Pelasan di Bali Terancam Punah

5 Agustus 2026, 19:01 WIB

Keberadaan perahu kayu tradisional jukung pelasan di sepanjang pesisir pulau Bali dilaporkan semakin langka. Peneliti Sarah Ward dari International Journal of Nautical Archaeology mencatat hanya tersisa enam unit perahu kayu yang masih utuh di area survei, sebagaimana dikutip dari Detik Travel.

Kondisi saat ini sangat kontras jika dibandingkan dengan era lima dekade lalu. Sebelum industri pelancongan berkembang pesat, wilayah pesisir seperti Benoa, Nusa Dua, dan Sanur dipenuhi oleh pemukiman nelayan yang aktif memproduksi serta mengoperasikan jukung pelasan secara turun-temurun.

Jukung pelasan merupakan perahu layar bercadik ganda dari kayu yang dihiasi ukiran gajah mina pada area haluan. Dalam kepercayaan Hindu Bali, gajah mina melambangkan perlindungan keselamatan bagi awak kapal sekaligus menjadi simbol keharmonisan antara daratan dan lautan.

Kapal tradisional ini bukan sekadar alat tangkap ikan biasa. Jukung mencerminkan keterampilan bertukang, pengetahuan navigasi laut, identitas komunitas, hingga nilai-nilai spiritual yang diwariskan antar generasi masyarakat pesisir.

Pergeseran fungsi kawasan pantai mulai berlangsung sejak dekade 1970-an hingga 1980-an seiring masifnya pembangunan sarana pariwisata. Desa nelayan di sepanjang garis pantai perlahan berganti menjadi kawasan hotel dan resor mewah.

Perubahan tata ruang tersebut mendorong mayoritas nelayan berpindah profesi ke sektor jasa wisata demi mendapat penghasilan yang lebih pasti. Kondisi ini berdampak langsung pada penurunan pemesanan pembuatan jukung kayu baru.

Selain minimnya permintaan, kelangkaan bahan baku menjadi kendala utama pembuatan kapal tradisional. Pohon berukuran besar untuk badan kapal makin sulit ditemukan, sementara bambu besar untuk cadik harganya kian melonjak. Sebagian nelayan akhirnya beralih ke perahu berbahan fiberglass.

Beberapa pelaku usaha kini memanfaatkan replika jukung untuk mengantar wisatawan menikmati pemandangan matahari terbit. Di tengah pertumbuhan ekonomi wisata, keberadaan perahu kayu asli justru semakin terdesak.

Pada kuartal pertama 2026, pendapatan sektor pariwisata Indonesia tumbuh sebesar 6,3 persen. Sepanjang 2025, Bali menyumbang sekitar 55 persen dari total pendapatan pariwisata nasional, dengan sektor wisata menopang sekitar 60 persen produk domestik bruto daerah tersebut.

Upaya Dokumentasi Pengetahuan Tradisional

Banyak jukung kayu kini tidak lagi berada di perairan Bali. Sebagian perahu dijual kepada kolektor mancanegara dan kini tersimpan di sejumlah museum di Australia, Amerika Serikat, hingga China.

Meski tersimpan rapi di museum luar negeri, keberadaan benda tersebut terpisah dari komunitas asli yang memberi makna budayanya. Sarah Ward menekankan bahwa pelestarian warisan maritim tidak cukup hanya dengan menyelamatkan fisik perahunya.

Seluruh pengetahuan teknis seperti metode pemilihan kayu, perakitan cadik, hingga ilmu membaca navigasi laut harus didokumentasikan secara tertulis agar tidak hilang bersama pensiunnya para pembuat kapal senior.

Guna menyelamatkan pengetahuan tersebut, Ward bekerja sama dengan arkeolog Widya Nayati dari Universitas Gadjah Mada untuk mendokumentasikan teknik, istilah, serta cerita lisan masyarakat pesisir Bali terkait tradisi pembuatan jukung.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang