Populasi Jepang Menyusut 908 Ribu Jiwa pada 2024 Catat Rekor Terendah

2 Agustus 2026, 03:01 WIB

Jumlah penduduk warga negara Jepang mengalami penyusutan terbesar sepanjang sejarah pencatatan demografi pada tahun 2024. Data terbaru menunjukkan total populasi Jepang berkurang sebanyak 908.574 jiwa atau merosot sebesar 0,75 persen, yang menempatkan total penduduk Negeri Sakura kini berada di angka 120,65 juta jiwa.

Penurunan tajam yang dicatat sepanjang tahun 2024 ini memperpanjang tren depopulasi berturut-turut yang dialami negara tersebut selama 16 tahun terakhir. Pertanyaan masyarakat internasional mengenai "kenapa populasi Jepang menurun" kini terjawab melalui kombinasi rekor terendah angka kelahiran serta pesatnya penuaan struktur demografi secara nasional.

Pemicu paling dominan dari penurunan jumlah penduduk Jepang adalah ketimpangan ekstrem antara tingkat kematian dan tingkat kelahiran bayi. Pada tahun 2024, jumlah kelahiran bayi baru di Jepang mencatatkan rekor terendah sejak sistem pencatatan dimulai pada 1899, yakni hanya menyentuh angka 686.061 bayi.

Perubahan Tren Sosial dan Ekonomi

Faktor ekonomi dan perubahan beban gaya hidup anak muda di wilayah perkotaan turut menekan angka pernikahan serta keputusan untuk memiliki anak. Biaya hidup yang tinggi, jam kerja yang panjang, serta minimnya dukungan pengasuhan anak membuat generasi muda makin enggan membangun keluarga besar.

Penurunan Populasi Terbesar di Jepang Sejak 1968: Penurunan Bersejarah | Me&You

Di sisi lain, proporsi penduduk lansia bertambah sangat cepat. Kelompok masyarakat berusia 65 tahun ke atas saat ini mencakup hampir 30 persen dari keseluruhan populasi nasional. Sementara itu, kelompok usia produktif berusia 15 hingga 64 tahun menyusut hingga tersisa hanya 60 persen dari total penduduk.

Disparidad Wilayah dan Lonjakan Rumah Kosong

Dampak dari pemicu "penyebab penurunan penduduk Jepang" ini dirasakan secara tidak merata di berbagai daerah. Ibu kota Tokyo menjadi satu-satunya dari 47 prefektur di Jepang yang masih mencatatkan pertumbuhan populasi positif sebesar 0,13 persen akibat arus migrasi domestik.

Dampak Bagi Wilayah Pedesaan

Sebaliknya, area pedesaan dan prefektur pinggiran mengalami pengosongan pemukiman secara masif. Fenomena ini memicu lonjakan jumlah rumah kosong atau akiya di kawasan pedesaan yang menembus hampir 4 juta unit dalam dua dekade terakhir. Banyak desa di Jepang kini terancam ditinggalkan sepenuhnya oleh penghuninya.

Data Ringkasan Demografi Jepang 2024

Indikator Demografi Nilai / Jumlah (2024)
Total Populasi Penduduk 120,65 juta jiwa
Penurunan Populasi Tahunan 908.574 jiwa (0,75%)
Jumlah Kelahiran Baru 686.061 bayi
Proporsi Lansia (65+ tahun) Hampir 30%
Proporsi Usia Produktif (15–64 tahun) 60%
Jumlah Warga Asing 3,67 juta jiwa

Peran Warga Asing dan Proyeksi Mendatang

Guna menambal kelangkaan tenaga kerja akibat menyusutnya kelompok usia produktif, pemerintah Jepang melonggarkan kebijakan migrasi. Jumlah warga negara asing yang menetap di Jepang melonjak ke rekor tertinggi yakni 3,67 juta orang pada tahun 2024, atau menyumbang hampir 3 persen dari total populasi nasional.

Meski kehadiran warga asing membantu menahan laju penurunan tenaga kerja di sektor-sektor vital, tren penurunan populasi warga asli Jepang belum menunjukkan tanda-tanda pembalikan. Populasi nasional Jepang diperkirakan bakal jatuh ke bawah ambang batas 120 juta jiwa pada tahun 2026, merosot jauh dibandingkan titik puncak populasi pada tahun 2009 yang sempat mencapai 127 juta jiwa.

Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memproyeksikan fenomena serupa akan dialami puluhan negara lain pada pertengahan abad ini. Penurunan populasi yang dialami negara maju seperti Jepang terus membawa dampak serius berupa krisis tenaga kerja berkelanjutan serta pembengkakan anggaran perawatan dan jaminan sosial bagi lansia.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang