Bagian tahap atas roket Falcon 9 milik SpaceX menabrak permukaan Bulan di dekat Kawah Einstein pada Rabu dini hari waktu setempat, seperti dilansir dari Detikcom. Tumbukan objek berkecepatan lebih dari 5.000 mil per jam tersebut berhasil dideteksi oleh fasilitas Very Large Telescope milik European Southern Observatory di Cile.
Pengamatan yang dipimpin oleh Carl Schmidt, asisten profesor riset astronomi di Boston University, mencatat peristiwa tabrakan terjadi sekitar pukul 02.35 waktu setempat (ET). Benturan ini menghasilkan semburan gas natrium dan litium yang membentang hingga puluhan kilometer di area luar angkasa.
Material gas yang muncul usai benturan dapat dikonfirmasi oleh instrumen teleskop melalui garis spektrum yang terdeteksi selama beberapa menit.
"Natrium kemungkinan berasal dari tanah bulan, sedangkan litium bisa jadi berasal dari roket itu sendiri," jelas Ferreira melalui surel kepada CNN Science, dikutip Kamis (6/8/2026).
Roket Falcon 9 yang terlibat dalam peristiwa ini sebelumnya meluncur pada 15 Januari 2025 untuk mengangkut dua pendarat bulan komersial. Setelah meluncurkan muatan, bagian pendorong tahap kedua mengapung di luar angkasa akibat kombinasi gravitasi dan aktivitas matahari hingga akhirnya mengarah ke orbit Bulan.
Pengelolaan sampah antariksa berenergi tinggi memang memerlukan penanganan khusus di luar prosedur pembuangan atmosfer Bumi.
"Namun, untuk misi berenergi tinggi, kami perlu melakukan manuver yang berbeda guna memastikan tahap kedua tersebut tetap aman sesuai dengan aturan dan regulasi yang berlaku," kata Scheiman.
Penjelasan mengenai faktor alam yang mengarahkan pergerakan sisa roket tersebut turut disampaikan oleh pihak manajemen SpaceX.
"Kami melakukan hal itu untuk tahap kedua pada misi Ispace dan Blue Ghost, dan apa yang terjadi pada dasarnya adalah kombinasi antara aktivitas matahari dan gaya gravitasi yang mengarahkannya ke jalur menuju Bulan," ungkapnya.
Penanganan terhadap sisa material antariksa menjadi prioritas kerja sama antara pihak operator dan lembaga antariksa.
"Benturan seperti ini jarang terjadi, tetapi bisa menimpa objek yang berada di orbit semacam ini, dan kami telah bekerja sama dengan NASA untuk menentukan solusi limbah yang optimal," demikian bunyi unggahan tersebut.
Studi pracetak oleh peneliti Fernando dan tim menunjukkan bahwa benturan ini diperkirakan membentuk kawah baru berdiameter 20 hingga 30 meter tanpa menimbulkan bahaya bagi Bumi. Meski tidak terlihat langsung dengan mata telanjang dari jarak 363.104 kilometer, para astronom terus mengumpulkan data visual guna mendukung perencanaan program Artemis NASA di Bulan.







