Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami pelemahan sebesar 0,15 persen atau terdepresiasi 27 poin ke posisi Rp17.963 per dolar AS pada perdagangan Jumat, 24 Juli 2026. Pelemahan ini dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik yang kembali memanas di kawasan Timur Tengah dan membayangi pergerakan mata uang berkembang.
Pergerakan nilai tukar tersebut terjadi di tengah indeks dolar AS yang justru mencatatkan penurunan sebesar 0,09 persen ke posisi 101,35. Kendati indeks mata uang Paman Sam melandai, tekanan terhadap mata uang negara berkembang seperti rupiah tetap tinggi akibat kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menyoroti eskalasi konflik di Timur Tengah sebagai salah satu faktor utama yang memicu gejolak pasar keuangan. Serangan kelompok Houthi terhadap kapal tanker Saudi ENCELA dan LAYLIA di perairan internasional memperburuk kondisi keamanan pelayaran.
Gangguan pelayaran di Selat Bab el-Mandeb berpotensi memaksa kapal-kapal tanker mengubah rute pelayaran, yang berujung pada lonjakan biaya pengiriman minyak global. Lonjakan biaya ini mengancam inflasi energi dan membuat para pelaku pasar bersikap lebih hati-hati.
Dampak Konflik Geopolitik terhadap Pasar Modal
Pasar keuangan global kini menantikan langkah strategis dari otoritas moneter Amerika Serikat. Pertanyaan mengenai "bagaimana pengaruh konflik timur tengah ke nilai tukar" menjadi perhatian utama bagi para pelaku pasar dan investor domestik saat ini.
Fokus Pasar pada Kebijakan Federal Reserve
Para pelaku pasar saat ini memusatkan perhatian pada keputusan moneter Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan berlangsung pekan depan. Keputusan tersebut sangat dinanti untuk melihat arah kebijakan suku bunga di tengah bayang-bayang inflasi energi global.
Rincian Kurs Dolar AS di Bank Nasional dan Pasar Depresiasi
Berdasarkan data per 24 hingga 25 Juli 2026, nilai tukar tengah pasar USD ke IDR tercatat berada di kisaran Rp17.922. Sementara itu, kurs transaksi Bank Indonesia (BI) mencatat harga jual dolar AS sebesar Rp18.004,58 dan harga beli sebesar Rp17.825,42.
Masyarakat yang ingin bertransaksi valuta asing sering mengajukan pertanyaan seperti "berapa harga dollar ke rupiah sekarang" untuk memastikan nilai tukar terbaik di perbankan. Di PT Bank Central Asia Tbk (BCA), kurs e-rate per 25 Juli 2026 pukul 07.00 WIB ditetapkan sebesar Rp17.895 untuk beli dan Rp17.995 untuk jual.
Daftar Kurs Dolar AS di Berbagai Lembaga Perbankan
Berikut adalah rincian kurs dolar AS di beberapa perbankan dan Bank Indonesia untuk transaksi e-rate maupun TT counter:
| Lembaga / Bank | Harga Beli (IDR) | Harga Jual (IDR) |
|---|---|---|
| Bank Indonesia (BI) | Rp17.825,42 | Rp18.004,58 |
| BCA (e-rate) | Rp17.895,00 | Rp17.995,00 |
| Kisaran Perbankan Nasional | Rp17.750,00 – Rp18.070,00 | Rp17.895,00 – Rp18.080,00 |
Statistik Pergerakan USD/IDR dalam 90 Hari Terakhir
Berdasarkan data historis pasar valuta asing, nilai tukar rupiah mengalami fluktuasi signifikan dalam beberapa bulan terakhir:
- Statistik 30 Hari Terakhir: Tertinggi di Rp18.164, terendah di Rp17.837, rata-rata Rp17.987 (perubahan 0,47%).
- Statistik 90 Hari Terakhir: Tertinggi di Rp18.209, terendah di Rp17.223, rata-rata Rp17.795 (perubahan 4,06%).
Prospek Nilai Tukar dan Prediksi Pasar
Ibrahim Assuaibi memperkirakan mata uang rupiah pada perdagangan selanjutnya akan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah di rentang Rp17.930 hingga Rp17.980 per dolar AS. Ketidakpastian geopolitik diprediksi masih menjadi penentu utama pergerakan mata uang dalam jangka pendek.
Banyak masyarakat juga mencari tahu "kenapa rupiah melemah hari ini" akibat tingginya kebutuhan valuta asing dan ketegangan global. Pemantauan secara berkala terhadap perkembangan pasar keuangan sangat disarankan bagi para pelaku bisnis internasional.
Informasi nilai tukar mata uang dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti dinamika pasar finansial. Transaksi valuta asing hendaknya dilakukan melalui lembaga keuangan resmi.
Pergerakan nilai tukar rupiah untuk beberapa hari ke depan masih akan terus dipengaruhi oleh perkembangan situasi di Timur Tengah serta hasil rapat kebijakan moneter The Fed minggu depan.






