Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak variatif namun berhasil ditutup menguat tipis ke level Rp17.905 per dolar AS pada perdagangan Jumat (26/6/2026). Penguatan mata uang Garuda ini terjadi di tengah koreksi yang dialami oleh indeks dolar AS di pasar global.
Berdasarkan data Refinitiv pada penutupan Jumat (26/6/2026), rupiah mencatatkan penguatan sebesar 0,06% dari posisi sebelumnya. Kendati demikian, volatilitas tinggi sempat mewarnai perdagangan harian sejak pasar dibuka pada pagi hari.
Saat pembukaan perdagangan spot, rupiah sebenarnya sempat melemah 0,20% ke level Rp17.950 per dolar AS. Pergerakan mata uang domestik bahkan terus tertekan hingga menyentuh level terlemah harian di posisi Rp17.985 per dolar AS sebelum akhirnya berbalik menguat menjelang penutupan pasar.
"Informasi ini bukan saran investasi. Pergerakan nilai tukar mata uang bersifat volatil dan dipengaruhi oleh berbagai faktor ekonomi global serta domestik. Konsultasikan dengan penasihat keuangan sebelum mengambil keputusan investasi."
Dinamika Pergerakan Rupiah di Berbagai Pasar
Data dari beberapa sumber pasar keuangan menunjukkan variasi angka penutupan, namun secara umum mengonfirmasi tren penguatan rupiah terhadap dolar AS. Perbedaan pencatatan ini wajar terjadi karena dinamika waktu pembaruan data di masing-masing platform perdagangan valuta asing.
Data Marketwatch dan Bloomberg
Menurut data Marketwatch hingga pukul 14.48 WIB, rupiah tercatat menguat sebesar 0,27% atau naik 49 poin ke level Rp17.921 per dolar AS. Penguatan ini melanjutkan tren positif dari hari sebelumnya Kamis (25/6/2026), di mana rupiah ditutup menguat 0,05% atau 9 poin di level Rp17.943 per dolar AS. Sementara itu, data Bloomberg mencatat dolar AS sempat mencapai level Rp17.978 dalam rentang perdagangan harian.
Data Penutupan Sore dan Wise.com
Pada perdagangan sore, rupiah resmi ditutup menguat 21 poin ke level Rp17.922 per dolar AS jika dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya. Di sisi lain, catatan dari Wise.com pada pukul 09.41.55 WIB menunjukkan rupiah sempat berada di level Rp17.977,0 per dolar AS atau melemah 0,35% dari perdagangan sebelumnya. Pada platform tersebut, pembukaan berada di level Rp17.900,7 dengan rentang pergerakan harian yang cukup lebar antara Rp17.920 hingga Rp18.047 per dolar AS.
Berikut adalah ringkasan performa historis pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam berbagai jangka waktu perdagangan terakhir:
| Periode Waktu | Persentase Kenaikan |
|---|---|
| 1 Minggu Terakhir | 1,07% |
| 1 Bulan Terakhir | 1,07% |
| 3 Bulan Terakhir | 6,33% |
| 6 Bulan Terakhir | 7,25% |
| 1 Tahun Terakhir | 10,90% |
Secara historis, rentang pergerakan nilai tukar rupiah selama 52 minggu terakhir berada di kisaran Rp16.085 hingga level terlemahnya di Rp18.197,5 per dolar AS.
Faktor Penggerak Eksternal dan Indeks Dolar
Penguatan tipis rupiah tidak lepas dari kondisi indeks dolar AS (DXY) yang sedang mengalami tekanan di pasar internasional. Melemahnya mata uang Negeri Paman Sam tersebut memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk melakukan rebound.
Pada Jumat (26/6/2026) pukul 15.00 WIB, indeks dolar AS terpantau terkoreksi sebesar 0,08% ke posisi 101,340. Penurunan ini melanjutkan tren pelemahan dari hari Kamis (25/6/2026), di mana indeks DXY juga melemah 0,10% ke posisi 101,51.
Para pelaku pasar saat ini tengah mencermati rilis data ekonomi terbaru dari Amerika Serikat yang menunjukkan tekanan inflasi masih berjalan persisten. Data Personal Consumption Expenditures (PCE) utama global tercatat naik 4,1% secara tahunan (YoY) pada Mei 2026, meningkat jika dibandingkan dengan capaian April sebesar 3,8%, sekaligus menandai angka tahunan tertinggi sejak periode April dan Oktober 2023.
Selain inflasi utama, data PCE inti Amerika Serikat juga merangkak naik menjadi 3,4% YoY pada Mei 2026 dari posisi sebelumnya 3,3% pada April. Secara bulanan (MoM), indikator PCE inti tidak mengalami perubahan dan tetap tertahan di level 0,3%, yang memicu spekulasi lanjutan mengenai kebijakan suku bunga bank sentral AS ke depan.







