Suhu Ekstrem Afrika Memicu Kematian Massal Ternak Unta

6 Agustus 2026, 02:18 WIB

Peningkatan suhu ekstrem akibat perubahan iklim di wilayah Afrika Utara dan Tanduk Afrika telah menyebabkan dehidrasi parah serta kematian massal pada kawanan unta, sebagaimana dilansir dari Detik Travel pada Senin (3/8/2026).

Krisis lingkungan tersebut menghantam populasi unta dromedaris yang menampung sekitar 80 persen dari total populasi dunia, terutama di Etiopia, Somalia, Kenya, hingga Aljazair. Kondisi terik di atas batas toleransi biologis memicu kegagalan organ, lonjakan infeksi, serta penurunan drastis populasi ternak warga lokal.

Penggembala di wilayah Afar, Etiopia, merasakan langsung dampak buruk dari lonjakan suhu udara yang kian membakar tersebut.

"Dalam sebulan terakhir saya kehilangan delapan anak unta karena panas ekstrem. Kondisinya menjadi jauh lebih intens dan sulit," kata Ali Umer, seorang penggembala dari Semera, Afar, yang memelihara sekitar 500 ekor unta.

Ia menceritakan penderitaan fisik yang dialami hewan gembalaannya akibat radiasi panas pasir gurun.

"Bahkan angin yang dulu membawa udara sejuk kini membawa panas. Kaki mereka melepuh, mata mereka berair, dan pasir yang panas membakar kulit mereka serta merusak bulu mereka saat mereka duduk. Saya bisa melihat unta-unta saya menderita," kata Ali Umer.

Riset tahun 2025 di Etiopia selatan menunjukkan variabilitas iklim menurunkan produktivitas dan reproduksi unta. Sementara di Somalia, kekeringan berdampak pada 46 persen keluarga pemilik unta, bahkan angka kematian unta di wilayah Sool mencapai hampir 73 persen. Di Kenya, dokter hewan kewalahan menghadapi lonjakan kasus fatal.

"Kami melihat peningkatan signifikan kasus hipertermia pada unta yang menyebabkan mereka mengalami berbagai infeksi," ujar Hassan Nuya Guyo, dokter hewan di Marsabit, Kenya.

Tenaga medis di Kenya mencatat lonjakan kematian hewan ternak tersebut dalam jangka waktu dua tahun terakhir.

"Dalam dua tahun terakhir, kami telah melihat peningkatan lebih dari 15% kematian unta di wilayah kami akibat panas ekstrem," ujar Hassan Nuya Guyo.

Laporan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyebut pemanasan di Afrika Utara terjadi paling cepat, di mana suhu melampaui 50 derajat Celsius. Meskipun unta secara biologis sanggup menaikkan suhu tubuh untuk bertahan hingga 40 derajat Celsius, pemaparan suhu 41 hingga 50 derajat Celsius secara terus-menerus merusak organ mereka.

"Namun, unta juga dapat mengalami stres ketika suhu meningkat melampaui kisaran kenyamanan mereka," kata Dr Mohammed Bengoumi, ilmuwan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO).

Ia menambahkan bahwa kelangkaan vegetasi dan air semakin memperburuk risiko kematian hewan-hewan tersebut.

"Di banyak bagian Sahara, suhu musim panas kini sering melampaui 50 derajat Celsius, meningkatkan risiko stres panas yang parah, terutama ketika disertai berkurangnya tutupan vegetasi, kelangkaan air, dan terbatasnya akses ke tempat teduh," kata Dr Mohammed Bengoumi.

Secara ilmiah, sengatan panas berkepanjangan menyerang sel-sel darah dan kekebalan tubuh unta secara langsung.

"Penelitian kami menunjukkan bahwa panas berkepanjangan siang dan malam di atas 41 hingga 45 derajat Celsius secara langsung menyerang sel-sel mereka," kata Profesor Abdelmadjid Chehma, akademisi dari Universitas Ghardaia, Aljazair.

Kerusakan sel darah putih membuat sistem imun tidak mampu memperbaiki diri hingga memicu kerusakan metabolisme total.

"Sistem kekebalan mereka menderita karena tingkat panas seperti itu merusak sel darah putih dan sel-sel lain akibat stres. Sel-sel tersebut kesulitan memperbaiki diri dan akhirnya menghancurkan diri sendiri," kata Profesor Abdelmadjid Chehma.

Kondisi lesu akibat stres panas membuat asupan makan unta anjlok, berat badan menyusut, ketidakseimbangan kimiawi ginjal, serta hilangnya produksi susu. Banyak peternak di Etiopia akhirnya memilih pindah permanen ke selatan demi menyelamatkan sisa hewan ternak mereka.

"Meskipun unta tetap menjadi garis pertahanan terakhir para penggembala ternak terhadap gurun, intensitas gelombang panas saat ini yang belum pernah terjadi sebelumnya secara langsung mengancam fungsi-fungsi vital mereka, mengubah hewan yang secara historis tangguh ini menjadi korban perubahan iklim," kata Profesor Abdelmadjid Chehma.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang