Sumpah Palapa Gajah Mada Tegaskan Komitmen Penyatuan Nusantara

3 Agustus 2026, 18:01 WIB

Mahapatih Gajah Mada mengucapkan ikrar bersejarah yang dikenal sebagai Sumpah Palapa saat diangkat menjadi Patih Amangkubhumi Majapahit pada tahun 1336 M atau 1258 Saka. Dalam ikrar tersebut, Gajah Mada memancangkan iktikad politik untuk tidak menikmati kenyamanan pribadi sebelum berhasil menyatukan wilayah Nusantara di bawah naungan Kerajaan Majapahit.

Pernyataan puncaknya di hadapan Ratu Tribuana Tunggadewi dan para pejabat istana tersebut menjadi tonggak krusial dalam sejarah ekspansi serta integrasi wilayah di Asia Tenggara. Catatan historis mengenai ikrar monumental ini terekam secara jelas dalam naskah kuno Pararaton.

Sumpah Palapa menegaskan ketetapan hati Gajah Mada untuk menolak amukti palapa, yakni menghentikan konsumsi rempah-rempah pilihan atau menikmati kesenangan duniawi. Komitmen tersebut berlaku hingga seluruh wilayah strategis yang ditargetkan dapat dipersatukan di bawah panji Majapahit.

Terdapat sepuluh wilayah utama yang disebutkan secara eksplisit dalam naskah Pararaton sebagai sasaran penyatuan Nusantara. Wilayah-wilayah tersebut mencakup Gurun, Seran, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, hingga Tumasik yang kini dikenal sebagai Singapura.

Sumpah Palapa Isi dan Arti Dibalik Sumpah Palapa Dedikasi Agung Mahapatih Gajah Mada | NAPAK TILAS PERJALANAN

Perjalanan Karier Kekuasaan Gajah Mada

Karier kepemimpinan Gajah Mada tumbuh secara bertahap dalam struktur pemerintahan Kerajaan Majapahit. Keberhasilannya menumpas berbagai ancaman internal membawanya ke puncak pimpinan militer dan sipil kerajaan.

Pengabdian Awal dan Kepemimpinan di Kahuripan

Jejak karier Gajah Mada menanjak sejak diangkat menjadi Patih Kahuripan pada sekitar tahun 1319. Jabatan penting tersebut diraih setelah ia menunjukkan kesetiaan penuh dengan berhasil menyelamatkan Raja Prabu Jayanegara dari ancaman pemberontakan Kuti.

Pengangkatan Menjadi Mahapatih Amangkubhumi

Pasca wafatnya Prabu Jayanegara pada tahun 1328, tahta Majapahit dilanjutkan oleh Tribuana Tunggadewi. Gajah Mada kembali membuktikan kapasitas kepemimpinannya saat membantu menumpas pemberontakan Sadeng. Atas jasa besar tersebut, Ratu Tribuana Tunggadewi secara resmi mempromosikan Gajah Mada menjadi Mahapatih Amangkubhumi, momen di mana Sumpah Palapa dilantangkan.

Realisasi Penyatuan Nusantara dan Tragedi Bubat

Gajah Mada langsung merancang strategi militer dan diplomasi berskala besar untuk merealisasikan ikrarnya. Salah satu langkah strategis utamanya adalah memimpin pembentukan armada angkatan laut Majapahit yang tangguh di bawah komando Laksamana Nala.

Melalui kekuatan maritim tersebut, Majapahit berhasil membentangkan pengaruhnya hingga mencapai puncak kejayaan. Wilayah kekuasaan kerajaan mencakup hampir seluruh kepulauan Nusantara, Semenanjung Malaya, Tumasik, hingga kawasan selatan Filipina.

Tahun (Masehi) Peristiwa Sejarah Majapahit
1319 Gajah Mada diangkat menjadi Patih Kahuripan usai menyelamatkan Prabu Jayanegara
1328 Prabu Jayanegara wafat dan kepemimpinan berlanjut ke Tribuana Tunggadewi
1336 Gajah Mada dilantik sebagai Patih Amangkubhumi dan mengucapkan Sumpah Palapa
1357 Letusan Pertempuran Bubat dalam upaya mengintegrasikan Kerajaan Sunda

Meskipun berhasil menyatukan sebagian besar wilayah, imperium Majapahit menghadapi kendala besar saat berusaha menundukkan Kerajaan Sunda. Pada tahun 1357 M, pecah Tragedi Bubat yang mengakhiri diplomasi pernikahan antara Raja Hayam Wuruk dan Putri Dyah Pitaloka Citraresmi dari Sunda. Pertempuran sengit tersebut menandai keretakan hubungan kedua kerajaan, di mana Kerajaan Sunda sempat menjadi bawahan sebelum akhirnya kembali merdeka pada periode berikutnya.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang