Talent Pool Striker Timnas Indonesia dan Kenangan Penyerang Legendaris

30 Juli 2026, 15:16 WIB

Oleh: Gilang Gusti Aji*

Kemarin saya melihat satu unggahan di media sosial tentang talent pool striker Timnas Indonesia saat ini. Nama-nama seperti Ezra Walian, Ole Romeny, hingga Mitchell Baker dipajang sebagai gambaran bahwa Indonesia mulai memiliki pilihan penyerang yang menjanjikan.

Mayoritas komentar bernada optimistis. Namun, di tengah pujian itu muncul satu komentar yang mengubah arah percakapan.

Menurut akun tersebut, kumpulan striker itu belum ada yang mampu mendekati kelas para penyerang Indonesia di masa lalu. Seketika kolom komentar dipenuhi nama-nama seperti Kurniawan Dwi Yulianto, Boaz Solossa, Bambang Pamungkas, Budi Sudarsono, hingga Cristian Gonzales.

Jika beberapa minggu lalu saya bercerita tentang kultur membandingkan antar fans, maka ini varian lain di dalamnya. Setiap kali Timnas memainkan turnamen, selalu ada ruang bagi masa lalu untuk ikut bertanding.

Nama-nama yang telah pensiun kembali memenuhi percakapan, seolah belum ada generasi yang benar-benar mampu menggantikan mereka.

Bagi mereka yang tumbuh menyaksikan Timnas pada era 1990-an hingga 2000-an, Indonesia pernah memiliki kumpulan penyerang yang terasa lebih tajam, lebih berkarisma, dan lebih mampu menghadirkan harapan setiap kali berdiri di depan gawang lawan.

Sebagai orang yang berusia cukup tua, terus terang, saya spontan ikut menganggukkan kepala ketika membaca komentar-komentar itu. Sulit rasanya menolak kenangan tentang kehebatan mereka.

Namun, di tengah afirmasi itu, saya kemudian bertanya benarkah para striker masa lalu memang lebih hebat, atau jangan-jangan kita hanya sedang menjadi nostalgia merchant— orang-orang yang selalu percaya bahwa masa lalu adalah masa terbaik?

Nostalgia Merchant, Kenangan yang Menjadi Tolok Ukur

Komentar-komentar yang memenuhi media sosial itu sesungguhnya wajar. Indonesia memang pernah memiliki generasi penyerang yang sulit dilupakan. Sebut saja Kurniawan Dwi Yulianto, striker yang nyaris menjadi pemain Indonesia pertama yang berkarier di Serie A, dengan naluri predatornya seolah selalu tahu ke mana bola akan jatuh di dalam kotak penalti.

Ada sosok Bambang Pamungkas, yang lompatan sundulannya hampir selalu membuat para pendukung berdiri sebelum bola benar-benar bersarang di gawang.

Lalu Boaz Solossa, yang bagi saya masih layak disebut sebagai striker terbaik yang pernah dimiliki Indonesia, dengan ledakan kecepatan dan keberanian menantang bek satu lawan satu. Belum lagi Budi Sudarsono, si Ular Python, dengan dribel yang sulit ditebak tetapi justru menjadi ciri khas yang tak terlupakan.

Yang membuat mereka terus hidup dalam ingatan bukan semata jumlah gol yang dicetak. Masing-masing menghadirkan karakter yang berbeda sehingga kita dengan mudah bisa mengenali mereka hanya dari cara bermainnya.

Mereka tidak sekadar mencetak gol tetapi memberi standar striker bagi Indonesia. Mungkin karena itulah setiap kali Timnas memainkan turnamen, nama-nama itu selalu kembali dipanggil ke dalam percakapan.

Namun, di sinilah persoalannya, apakah kenangan terhadap para striker itu otomatis membuktikan bahwa mereka memang lebih hebat dibandingkan generasi sekarang? Atau jangan-jangan ada cara kerja ingatan yang membuat masa lalu selalu tampak lebih indah daripada kenyataannya?

Fenomena ini belakangan akrab disebut sebagai aktivitas nostalgia merchant, yaitu kecenderungan penggemar menjadikan pemain-pemain masa lalu sebagai ukuran untuk menilai generasi yang sedang bermain.

Hal itu muncul bukan semata karena pemain terdahulu selalu lebih hebat. Ada kecenderungan membandingkan legenda yang kisahnya telah selesai dengan pemain yang kariernya masih terus ditulis. Para legenda tidak lagi memiliki kesempatan tampil buruk, sedangkan pemain hari ini dinilai setiap pekan.

Di saat yang sama, nostalgia sepak bola sesungguhnya juga merupakan nostalgia terhadap fase hidup para penggemarnya. Ketika mengingat Boaz Solossa atau Bambang Pamungkas, yang dikenang bukan hanya gol-gol mereka, tetapi juga masa ketika kita rela begadang bersama teman, menonton bersama keluarga, atau merayakan kemenangan dengan cara yang kini hanya tinggal cerita.

Media sosial kemudian memperpanjang umur kenangan itu. Setiap muncul penyerang baru, algoritma kembali mempertemukan masa lalu dengan masa kini dalam satu kolom komentar, membuat perbandingan lintas generasi terus berulang.

Cara Kita Mengenal Pemain Tidak Lagi Sama

Nostalgia merchant adalah milik segala bangsa. Sebagai contoh, hampir setiap negara sepak bola memiliki "striker yang tidak pernah benar-benar pensiun".

Brasil terus mencari penyerang yang dianggap mampu menyamai Ronaldo Nazário. Argentina selalu kembali membandingkan penyerang-penyerang barunya dengan Gabriel Batistuta. Belanda berkali-kali berharap menemukan Marco van Basten berikutnya.

Mereka memang telah berhenti bermain, tetapi tidak pernah berhenti menjadi pembanding. Karena itu, ketika nama kembali memenuhi kolom komentar setiap kali Timnas bermain, boleh jadi yang sedang kita saksikan bukan sekadar perbandingan kualitas antarpemain, melainkan cara yang sangat manusiawi dalam merawat kenangan terhadap sebuah generasi.

Jika penjelasan tentang nostalgia saja belum cukup menjelaskan, ada perubahan lain yang sesungguhnya terjadi, yaitu cara menikmati dan memaknai sepak bola.

Dulu, seorang striker dikenang karena karakter yang ia hadirkan di lapangan. Kurniawan identik dengan naluri predatornya di kotak penalti, Bambang Pamungkas dengan sundulan yang seolah selalu tepat sasaran, Boaz Solossa dengan keberanian menantang bek lawan, sementara Budi Sudarsono dikenang lewat dribel yang sulit ditebak. Mereka diingat karena signature move yang mudah dikenali lalu dikisahkan dari generasi ke generasi

Hari ini, cara kita mengenal pemain tidak lagi sama. Siaran langsung yang nyaris tanpa jeda, tayangan ulang dari berbagai sudut, statistik yang tersedia setiap saat, hingga potongan video di media sosial membuat pemain lebih sering hadir sebagai kumpulan angka dan data performa.

Kita mengetahui lebih banyak tentang seorang pemain, tetapi belum tentu mengenalnya lebih dekat. Barangkali karena itu, kita merasa para striker masa lalu memiliki karakter yang lebih kuat. Bukan semata-mata karena mereka lebih hebat, melainkan karena kita mengenang mereka dengan cara yang berbeda.

Pada akhirnya, sesuai yang pernah saya tulis bahwa kultur mbanding-mbandingke adalah jiwa penggemar sepakbola yang tak pernah selesai. Sepak bola selalu melahirkan legenda baru, tetapi juga selalu menyisakan legenda lama yang menjadi tolok ukur.

Karena itu, ketika kolom komentar kembali dipenuhi nama-nama Boaz dkk, kita tak boleh buru-buru menyimpulkan bahwa para striker hari ini memang kalah hebat. Yang berubah bukan hanya kualitas pemain, melainkan juga cara kita menikmati, mengingat, dan menilai sepak bola.

Boleh jadi, dua puluh tahun lagi, anak-anak kita akan membandingkan striker yang baru muncul nanti dengan Ole Romeny dan Rafael Struicjk.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang