Tantangan Pelatih Nama Besar di Piala Dunia 2026

19 Juli 2026, 06:31 WIB

Keputusan Inggris menunjuk Thomas Tuchel dan Brasil mempercayakan tim nasionalnya kepada Carlo Ancelotti disambut sebagai pilihan yang cerdas.

Tuchel dikenal sebagai salah satu ahli taktik terbaik Eropa, sementara Ancelotti selalu diyakini sebagai pelatih dengan kemampuan man management terbaik di dunia.

Namun, Piala Dunia 2026 kembali mengingatkan bahwa melatih tim nasional memiliki tantangan yang berbeda. Pengalaman, prestasi, bahkan nama besar ternyata tidak otomatis menjadi jaminan.

Catatan sejarah menunjukkan satu pola yang konsisten. Sejak turnamen Piala Dunia pertama digelar pada 1930, belum pernah ada negara yang menjadi juara dunia di bawah pelatih berkewarganegaraan asing.

Final Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Spanyol memberikan petunjuk mengapa pola tersebut terus bertahan. Lionel Scaloni dan Luis de la Fuente bukan sekadar melatih negara kelahirannya, tetapi merupakan produk dari proses panjang di dalam ekosistem sepak bola nasional masing-masing.

Kondisi itu membuka ruang untuk mempertanyakan kembali apakah tim nasional membutuhkan pendekatan yang berbeda dibandingkan klub. Argentina dan Spanyol memberikan bahan refleksi yang menarik.

Reputasi bukan Jaminan

Sejak dekade 1990-an, mobilitas pelatih sepak bola semakin mengglobal. Klub-klub elit tidak lagi menjadikan kewarganegaraan sebagai pertimbangan utama selama seorang pelatih mampu menghadirkan prestasi. Logika yang sama kemudian mulai diadopsi sejumlah tim nasional.

Inggris pernah mempercayakan salah satu tim terbaiknya dalam sejarah di era David Beckham dkk tahun 2000an dalam besutan Sven-Göran Eriksson dan Fabio Capello. Dua pelatih top ini terbukti mampu meraih juara bersama sejumlah tim di Seria A Italia.

Portugal pun menyerahkan skuad bintang dengan perpaduan pengalaman Luis Figo dan talenta Cristiano Ronaldo kepada Luiz Felipe Scolari, seorang Brasil yang baru saja membawa negaranya juara piala dunia tahun 2002. Ada pula Belgia memberikan kepemimpinan timnas generasi emas yang diperkuat Kevin De Bruyne dan Eden Hazard di bawah Roberto Martínez dari Spanyol.

Ini mestinya perpaduan yang menarik: skuad yang dipenuhi pemain elit, bahkan banyak di antaranya menjadi kompetisi domestik terbaik Eropa serta Juara Liga Champions dikelola pelatih berpengalaman dan bereputasi.

Namun, hasilnya tidak ada yang sampai meraih gelar juara piala dunia. Inggris mentok di perempat final, Portugal mencapai posisi keempat pada 2006, sementara Belgia meraih peringkat ketiga pada 2018.

Bagi tiga negara yang datang dengan skuad juara dan pelatih bereputasi, capaian tersebut tetap belum memenuhi tujuan utamanya yaitu menjadi juara dunia.

Pemahaman yang membawa Perubahan

Dalam satu dekade terakhir, mulai terlihat kecenderungan berbeda. Sejumlah federasi membangun kepemimpinan dari dalam ekosistem mereka sendiri.

Jerman menjuarai Piala Dunia 2014 bersama Joachim Löw yang sebelumnya bertahun-tahun menjadi asisten pelatih tim nasional.

Prancis yang juara pada 2018 dipimpin oleh Didier Deschamps. Legenda dan kapten yang memimpin les bleus juara Piala Dunia 1998 dan Euro 2000 telah mengambil tampuk kepelatihan sejak 2012.

Duel final Piala Dunia tahun ini membawa cerita itu. Lionel Scaloni mantan pemain tim nasional yang berkembang dari asisten hingga pelatih kepala Argentina. Sementara Luis de la Fuente menghabiskan lebih dari satu dekade membina berbagai kelompok usia Spanyol sebelum dipercaya menangani tim senior.

Pengalaman panjang Scaloni di dalam ekosistem tim nasional memberinya modal yang tidak dimiliki pelatih yang baru datang dari luar. Ia memahami karakter ruang ganti, hubungan antarpemain, serta beban psikologis yang diwariskan setelah kegagalan di Piala Dunia 2018.

Ketika dipercaya memimpin Argentina, ia tak sekadar membangun pendekatan taktis jangka pendek tetapi fondasi baru bagi tim nasional. Salah satu langkah paling pentingnya di awal adalah memulihkan kepercayaan Lionel Messi terhadap proyek baru Argentina.

Ini salah satunya dilakukan dengan melibatkan Pablo Aimar yang merupakan idola Messi untuk membangun komunikasi dan keyakinan terhadap arah yang akan ditempuh.

Selain itu, Scaloni turut menjalankan proses regenerasi dan perubahan cara bermain. Ia tidak ingin Argentina bergantung pada satu figur. Ia membangun tim yang lebih kolektif, menjadikan Messi bagian dari sistem, bukan satu-satunya tumpuan.

Dan yang turut krusial, ia tidak ragu melakukan regenerasi. Sejak awal masa kepemimpinannya, ia memberi kesempatan kepada banyak pemain baru untuk menjadi pilar tim nasional.

Luis de la Fuente justru punya pengalaman lebih lama dalam struktur. Selama lebih dari satu dekade, ia menangani Spanyol berbagai kelompok usia, ia membawa Spanyol menjuarai Piala Eropa U-19 pada 2015, Piala Eropa U-21 pada 2019, serta meraih medali perak Olimpiade Tokyo.

Ketika ditunjuk menangani tim senior, De la Fuente tidak memulai sebuah proyek baru, melainkan melanjutkan perjalanan bersama generasi pemain yang telah dibinanya selama bertahun-tahun.

Pemain seperti Pedri, Martín Zubimendi, dan Álex Baena merupakan bagian dari generasi yang pernah bekerja bersama dengan De la Fuente sebelum menjadi andalan tim senior saat ini.

Kebersamaan yang telah terbangun sejak kelompok umur itu berlanjut ketika Spanyol menjuarai UEFA Nations League 2023 dan Piala Eropa 2024. Bahkan, bisa menjadi puncaknya jika mereka bisa mengalahkan Argentina di final minggu esok.

Menyambut final kali ini, kita bisa melihat duel Spanyol Vs Argentina lebih dari sekadar perebutan trofi atau adu strategi di lapangan.

Pertandingan final ini juga menghadirkan satu fakta menarik tentang peran pelatih yang tumbuh di dalam sistem keberlanjutan.

Tidak berarti ini akan selalu menjadi pendekatan yang lebih baik tetapi berbagai kepingan fakta mengingatkan bahwa kesinambungan kepemimpinan mungkin layak dipertimbangkan sebagai salah satu cara membangun tim nasional.

Di level internasional, dengan waktu berlatih yang terbatas dan identitas permainan menjadi sangat penting, kedekatan terhadap kultur sepak bola sebuah negara tampaknya memiliki pengaruh signifikan.

Keberhasilan Argentina dan Spanyol melaju hingga final bukan lahir dari pendekatan pragmatis tetapi proses yang dijalankan bertahap hingga akhirnya berbuah di panggung terbesar. Satu pelajaran yang dapat dipertimbangkan juga bagi Timnas Indonesia.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang