Teleskop Inouye Rekam Detail Permukaan Matahari hingga Ukuran 20 Km

6 Agustus 2026, 22:03 WIB

Teleskop Surya Inouye di Hawaii memotret citra permukaan Matahari dengan tingkat detail tertinggi yang pernah direkam manusia. Pengamatan pada wilayah aktif magnetis di sekitar bintik Matahari tersebut berhasil menangkap struktur baru berukuran hingga 20 kilometer, seperti dilansir dari Detik iNET.

Hasil rekaman gambar ini memberikan petunjuk penting untuk mengungkap rahasia atmosfer luar Matahari atau korona. Selama puluhan tahun, para ilmuwan mempertanyakan alasan suhu korona bisa jutaan derajat lebih panas jika dibandingkan dengan area permukaannya.

"Ini adalah citra permukaan surya dengan resolusi spasial tertinggi yang pernah diperoleh," kata Dr. Friedrich Wöger, ilmuwan senior di US National Solar Observatory, yang mengoperasikan teleskop tersebut di dekat puncak gunung berapi Haleakala, Pulau Maui.

Pengamatan awal teleskop surya terkuat di dunia ini sebelumnya mengidentifikasi bahwa permukaan Matahari tersusun dari struktur granular seluas negara Prancis. Visual terbaru ini mampu merekam Detail hingga skala 30 kilometer yang menjadi batas optimal kemampuan instrumen tersebut.

"Reaksi pertama saya adalah wow, bagaimana kita bisa melihat struktur sekecil dan sehalus itu di Matahari? Ini sesuatu yang belum pernah kita lihat sebelumnya dalam pengamatan surya mana pun," kata Dr. David Kuridze, astronom dalam tim tersebut yang dikutip detikINET dari Guardian.

Struktur kecil menyerupai pusaran air di permukaan bintang tersebut teridentifikasi sebagai fenomena ketidakstabilan Kelvin-Helmholtz (KHI). Peristiwa ini muncul akibat gesekan ketika aliran plasma cepat melintas di atas fluida yang bergerak lambat, sehingga memicu gelombang spiral pada plasma Matahari.

Meskipun fenomena KHI sering teramati di lautan Bumi, formasi awan, hingga atmosfer planet Jupiter dan Saturnus, keberadaannya di Matahari baru pertama kali terkonfirmasi secara jelas.

Aktivitas medan magnet ekstrem yang bergejolak menjadi sumber utama ledakan di Matahari, seperti suar surya hingga lontaran massa korona. Dampak ledakan radiasi tersebut berpotensi mengganggu stabilitas satelit, navigasi GPS, jaringan listrik, dan fasilitas komunikasi global di Bumi.

Pergerakan plasma panas bermuatan listrik membentuk medan magnet Matahari yang jalurnya dapat saling melilit. Saat jalinan garis magnetis ini mengalami kepatan ekstrem lalu terputus, pelepasan energi dalam jumlah sangat besar akan terjadi.

Peneliti menduga bahwa gelombang pusaran mikro di permukaan Matahari menjadi pemicu awal terbentuknya lilitan medan magnet. Proses ini sekaligus menjelaskan mengapa atmosfer luar dapat mencapai suhu jutaan derajat Celsius, padahal permukaan Matahari hanya bersuhu sekitar 6.000 derajat Celsius.

"Penemuan ini berpotensi memecahkan salah satu misteri terbesar dalam fisika Matahari selama lebih dari 50 tahun," kata Kuridze. Menurutnya, ketika pusaran ini memicu ketidakstabilan, energi akan berpindah ke skala lebih kecil sebelum akhirnya dilepas dalam bentuk panas. Proses itu yang diduga membuat korona Matahari jadi sangat panas.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang