Tokek Berkepala Dua Simon dan Garfunkel Menetas di AS

7 Agustus 2026, 01:01 WIB

Kemunculan kondisi genetik unik kembali terjadi di dunia satwa. Seekor tokek berjambul (crested gecko) yang lahir dengan dua kepala bernama Simon dan Garfunkel kini dipelihara oleh peternak Rockstar Geckos setelah menetas pada akhir Juni, seperti dilansir dari Detik iNET.

Kondisi biologis memiliki lebih dari satu kepala tersebut dikenal sebagai polycephaly. Fenomena ini umumnya terjadi akibat proses pemisahan embrio kembar yang tidak sempurna di dalam rahim, atau disebut juga bifurkasi aksial.

Hewan dengan kondisi polycephaly biasanya sulit bertahan hidup lama di alam bebas karena kendala bergerak dan mencari makan. Kendati demikian, Simon dan Garfunkel mendapat perawatan khusus dari tim peternak dan menunjukkan perkembangan yang tergolong baik.

"Setiap kepala tampaknya memiliki perilakunya sendiri. Kepala sebelah kiri sedikit lebih pemarah. Mereka memang terlihat sesekali berselisih mengenai arah tujuan, tetapi sebagian besar hal itu tidak menjadi masalah. Saya menduga kepala sebelah kanan lebih dominan, namun agak sulit untuk memastikannya," kata Tracie Kelley dari Rockstar Geckos kepada IFLScience.

Melalui akun media sosial resmi, pihak pengelola secara berkala membagikan perkembangan kondisi si kembar. Mereka turut menyampaikan apresiasi atas tingginya perhatian publik terhadap reptil kecil tersebut.

Proses pergantian kulit menjadi tantangan terbesar selama perawatan. Mengingat ukuran tubuhnya yang sangat kecil dan rapuh, tim membutuhkan waktu ekstra untuk memastikan tidak ada sisa kulit lama yang tertempel.

"Kami ingin semua orang tahu bahwa kami sangat berterima kasih atas kasih sayang dan dukungan yang diberikan untuk makhluk-makhluk kecil ini. Kami akan terus memberikan kabar terbaru," kata Kelley.

Fenomena dua kepala bukan pertama kalinya ditemukan pada hewan. Catatan sejarah menunjukkan hiu banteng berkepala dua pernah ditemukan nelayan di Teluk Meksiko pada 2011, selain kasus serupa pada kucing, ular, hingga sapi. Temuan fosil Hyphalosaurus berusia 125 juta tahun dari Biota Jehol di Provinsi Liaoning, China, membuktikan fenomena langka ini sudah terjadi sejak zaman purba.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang