TransNusa Proyeksikan Okupansi Rute Jakarta Bangkok Capai 80 Persen

8 Agustus 2026, 16:46 WIB

Maskapai TransNusa memproyeksikan tingkat keterisian penumpang rute baru Jakarta-Bangkok meningkat hingga 80 persen pada periode lanjutan, setelah mencatatkan okupansi sebesar 75 persen pada dua bulan pertama operasionalnya sejak Kamis (6/8/2026), dilansir dari Detik Travel.

Optimisme tersebut terlihat pada penerbangan perdana maskapai dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Suvarnabhumi. Keterisian kursi penerbangan perdana rute internasional ini terpantau hampir memenuhi seluruh kapasitas pesawat.

"Targetnya untuk bulan dua bulan pertama kita targetnya 75%. Tapi kita confident lepas dua bulan dia pasti akan meningkat ke 80%," kata CEO TransNusa Group Datuk Bernard Francis.

Tingginya potensi pasar penerbangan ke Thailand didorong oleh kedudukan Bangkok sebagai salah satu hub penerbangan utama di kawasan Asia Tenggara. Kota tersebut memiliki konektivitas penerbangan langsung yang luas ke berbagai negara di dunia.

"That's why coming to Bangkok dan Phuket is very important part. Because ini satu-satu negara di Asia Tenggara yang mempunyai penerbangan dari 130 negara langsung ke Thailand. Kita mendapat koneksi dengan seluruh dunia," kata Datuk Bernard Francis.

Dari sisi finansial, manajemen TransNusa menilai penerbangan internasional memberikan kontribusi pendapatan yang lebih besar dibandingkan rute domestik. Hal ini dipengaruhi oleh perbedaan struktur harga tiket antara kedua segmen penerbangan tersebut.

"Sebab harga tiketnya berbeda kalau domestik harga tiketnya low ya, walaupun dari segi penumpang kita penumpang domestik itu 50 persen. Tapi dari sumbangan keuntungan mungkin kurang lebih 35 persen, sebab harga tiketnya rendah," kata Datuk Bernard Francis.

Meskipun volume penumpang rute penerbangan internasional relatif lebih sedikit dibanding penerbangan domestik, marjin keuntungan yang dihasilkan rute mancanegara jauh lebih tinggi.

"Kalau internasional harga tiketnya tinggi, kontribusinya lebih dari 50 persen tapi frekuensi penumpangnya kurang berbanding dengan domestik. Penumpang lebih dari Indonesia, tapi kalau internasional keuntungannya lebih tinggi," kata Datuk Bernard Francis.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang