Dr Tri Maharani Sediakan Layanan Darurat Gigitan Ular bagi Turis

8 Agustus 2026, 20:01 WIB

Wisatawan asing yang berlibur di Indonesia kerap mengandalkan pertolongan darurat dari pakar toksinologi nasional saat terkena serangan hewan berbisa. Seperti diberitakan oleh Detik Travel, bantuan medis jarak jauh tersebut diberikan langsung oleh Dr. dr. Tri Maharani, M.Si., Sp.Em., Sub.Sp.Tok(K).

Dokter gawat darurat RS Permata Depok ini dipercaya sebagai penasihat organisasi kesehatan dunia (WHO) dalam penanganan gigitan ular. Di tingkat nasional, dirinya memimpin Kajian Gigitan Hewan Berbisa dan Tanaman Beracun Kementerian Kesehatan RI. Biro perjalanan di Eropa bahkan menyimpan dan membagikan nomor telepon dokter kelahiran Kediri ini kepada para pelancong.

Langkah ini dilakukan guna memastikan kesiapan penanganan medis darurat selama wisatawan berlibur di Indonesia.

"Ada sebuah biro perjalanan di Praha yang menyertakan nomor saya. Jadi kalau ada wisatawan dari Praha yang mengalami gigitan ular atau hewan laut saat berlibur di Bali atau Ubud, mereka bisa langsung menghubungi saya," kata Maha, sapaan karib Tri Maharani, kepada Detik Travel beberapa waktu lalu.

Inisiatif tersebut bermula ketika seorang pelancong asal Republik Ceko mendapat gigitan ular saat menginap di sebuah resor kawasan Ubud, Bali. Korban berhasil pulih setelah menerima panduan penanganan medis yang tepat. Sebagai bentuk apresiasi, pihak agen perjalanan meminta izin untuk membagikan nomor kontak darurat sang dokter kepada seluruh klien mereka. Sejak peristiwa tersebut, permintaan konsultasi dari turis mancanegara terus mengalir.

"Mereka bilang, boleh tidak nomor saya dibagikan di biro perjalanan supaya kalau ada orang Praha yang ke Bali atau Ubud mengalami gigitan ular atau sengatan hewan laut, bisa langsung menghubungi saya," kata dia. Pasien yang berkonsultasi tidak hanya berasal dari Republik Ceko, tetapi juga mencakup wisatawan asal Jepang, China, hingga berbagai negara Eropa lainnya. Namun, pengguna layanan ini dari kalangan wisatawan domestik masih terbilang minim.

"Yang menghubungi saya lebih banyak turis asing. Orang Indonesia justru jarang," kata dia. Wisatawan mancanegara dinilai lebih proaktif dalam memetakan risiko kesehatan sebelum melakukan perjalanan. Mereka juga rutin memverifikasi kondisi darurat kepada tenaga medis untuk menentukan tindakan selanjutnya.

Pengembangan Virtual Poison Center

Layanan konsultasi jarak jauh telah dimulainya sejak tahun 2014 melalui pesan singkat. Sistem pertolongan ini kini telah bertransformasi menjadi Virtual Poison Center berbasis teknologi.

Layanan ini memfasilitasi pertolongan pertama untuk kasus gigitan ular, sengatan ubur-ubur, hingga keracunan hewan laut. Tujuan utamanya adalah memberikan panduan medis pada menit-menit awal pasca-kejadian. "Kalau ada yang digigit ular atau tersengat ubur-ubur, mereka bisa langsung bertanya.

Nanti kami berikan pertolongan pertama yang harus dilakukan," kata dia. Sistem ini dirancang untuk mencegah perburukan kondisi fisik korban sebelum tiba di fasilitas kesehatan terdekat. Kesigapan penanganan darurat menjadi salah satu indikator penting bagi turis asing dalam memilih destinasi liburan.

"Kalau wisatawan tahu Indonesia aman, mereka akan datang sendiri. Mereka yakin bisa pulang dengan selamat," kata dia.

Ketersediaan sarana kesehatan yang responsif dan terintegrasi dianggap mampu mendongkrak rasa aman para pelancong secara signifikan. "Orang datang berwisata ingin bahagia. Maka mereka juga harus pulang dengan selamat," ujarnya.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang