Dokter WHO Ungkap Beda Perilaku Turis Asing dan Lokal Saat Digigit Ular

8 Agustus 2026, 17:31 WIB

Penanganan kondisi darurat akibat serangan ular berbisa di destinasi wisata alam memperlihatkan perbedaan pola perilaku yang kontras antara wisatawan mancanegara dan turis domestik. Informasi mengenai potensi bahaya kesehatan menjadi pembeda utama kesiapan kedua kelompok tersebut.

Pakar toksinologi sekaligus dokter spesialis gawat darurat RS Permata, Dr. dr. Tri Maharani, M.Si., Sp.Em., Sub.Sp.Tok(K), mengungkapkan bahwa dirinya lebih sering menerima laporan konsultasi dari turis asing. Fakta ini dihimpun dari pengalaman bertahun-tahun menangani ratusan kasus serangan satwa berbisa, sebagaimana dilansir dari Detik Travel.

"Yang menghubungi saya lebih banyak turis asing dibanding orang Indonesia," kata Maha, sapaan karib Tri Maharani.

Kondisi tersebut terjadi lantaran turis mancanegara umumnya telah menggali informasi seputar risiko kesehatan sebelum mendatangi lokasi wisata di Indonesia. Bahkan, sejumlah agensi perjalanan di Eropa secara khusus mencantumkan nomor kontak Maha untuk rujukan darurat jika klien mereka terkena gigitan ular atau sengatan hewan berbisa.

Sosok Maha sendiri merupakan pakar kedokteran emergensi dengan subspesialisasi toksinologi yang mengkaji efek zat kimia berbahaya pada sistem hayati. Dokter asal Kediri ini tercatat sebagai advisor World Health Organization (WHO) untuk kasus gigitan ular dan ikut menyusun panduan Management of Snakebites.

Selain memimpin kajian gigitan hewan berbisa dan tanaman beracun di Kementerian Kesehatan, Maha mengelola aplikasi penanganan gawat darurat secara mandiri untuk membantu korban serangan ular.

"Mereka sudah tahu harus menghubungi siapa kalau terjadi keadaan darurat," ujar dia.

Sebaliknya, mayoritas wisatawan lokal cenderung pasif dan baru mencari petunjuk penanganan setelah insiden terjadi. Menurut Maha, turis asing juga tidak membuang waktu hanya untuk mengidentifikasi spesies ular yang menyerang. Langkah utama yang mereka tempuh adalah segera mengontak tenaga medis dan menjalankan petunjuk pertolongan pertama.

Prosedur tersebut dinilai jauh lebih efektif daripada berspekulasi menentukan tingkat bisa pada ular.

"Anggap saja semua ular berbisa. Yang penting segera lakukan pertolongan pertama dan ke fasilitas kesehatan," kata Maha.

Maha menegaskan pentingnya membangun budaya keselamatan berwisata (travel safety culture) di kalangan masyarakat Indonesia. Setiap orang yang hendak beraktivitas di alam terbuka disarankan mempelajari potensi risiko lokasi, mencatat nomor darurat, serta memetakan posisi rumah sakit rujukan terdekat.

"Persiapan itu sama pentingnya dengan menyiapkan tiket dan penginapan," kata dia.

Ia menambahkan bahwa kegiatan wisata yang aman tidak diartikan sebagai area yang sepenuhnya bebas risiko, melainkan kondisi perjalanan yang ditopang oleh kesiapsiagaan darurat.

"Kalau wisatawan siap, mereka tidak akan panik ketika menghadapi situasi darurat," kata dia.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang