Wamendiktisaintek Ingatkan Mahasiswa ITS Hadapi Dampak AI

6 Agustus 2026, 22:31 WIB

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie mengingatkan mahasiswa baru Institut Teknologi Sepuluh Nopember mengenai pentingnya menguasai kurasi pengetahuan agar mampu bersaing di era kecerdasan buatan, sebagaimana dilansir dari Detikcom pada Kamis, 6 Agustus 2026.

Lulusan perguruan tinggi dinilai tidak lagi bisa hanya mengandalkan ijazah. Stella menekankan tiga kunci utama keberhasilan sarjana saat ini mencakup kemampuan mengoptimalkan potensi diri, menguasai seni kurasi pengetahuan, serta menghadirkan solusi kreatif yang berdampak nyata.

"Kurasi pengetahuan inilah yang membedakan antara manusia dengan AI, dan akademisi bertugas menyaring esensi kebenaran yang paling bernilai bagi peradaban," paparnya dikutip dari laman ITS, Kamis (6/8/2026).

Proses perkuliahan dirancang untuk mengasah ketajaman analisis, kesiapan mental, dan jejaring profesional yang tidak dapat ditiru oleh komputer. Mahasiswa ITS pun diimbau memaksimalkan masa studi untuk melatih kemampuan berpikir kritis.

"Jadi mahasiswa ITS diharapkan mampu menjadi insan yang tangguh, inovatif, dan tidak tergantikan oleh kemajuan teknologi," kata Stella.

Perkembangan teknologi AI yang begitu cepat turut disamakan dengan fenomena gelembung ekonomi seperti gelembung dot-com dan perdagangan tulip di Belanda pada akhir abad ke-18. Publik diminta untuk tetap menyikapi fenomena ini secara rasional dan tidak terjebak optimisme berlebihan.

"Kini hampir semua persoalan dijawab AI dan dapat menjadi indikasi yang layak dikaji sebagai wujud gelembung teknologi yang dapat pecah sewaktu-waktu," sampainya.

Dari aspek lingkungan, pengoperasian pusat data AI mengonsumsi daya listrik serta air dalam skala masif yang setara dengan kebutuhan negara-negara besar. Peningkatan kapasitas teknologi tersebut berpotensi memicu dilema keberlanjutan secara global.

Selain itu, tantangan juga menyasar lulusan bidang komputer karena peran manusia di berbagai sektor semakin tergerus oleh kecerdasan buatan. Oleh karena itu, penguasaan kemampuan nyata menjadi faktor penentu utama agar posisi tenaga kerja manusia tidak tergantikan.

"Maka, keberhasilan dan nilai dari berkuliah tidak lagi diukur dari ijazah, namun kemampuan nyata individu agar tidak tergantikan oleh AI," tekanya.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang