Penyelenggaraan BTN Jakarta International Marathon (Jakim) 2026 hari kedua menuai sorotan tajam dari warganet setelah seorang pelari asal Lombok bernama Agus Putranadi meninggal dunia akibat pingsan di kilometer 14 pada 13-14 Juni 2026.
Kematian peserta tersebut memicu pembahasan luas di media sosial terkait keberadaan dan kesigapan tim medis di lapangan selama perlombaan berlangsung, seperti dilansir dari Papanskor.
Sejumlah unggahan viral di platform Threads mengungkapkan keluhan para peserta yang kesulitan menemukan petugas medis di titik-titik kritis lintasan lari.
"Udah setengah jam medis ditelepon sama marshall enggak diangkat dan enggak dateng-dateng. Dari masnya lemes, bangun lagi, lemes lagi, sampe enggak responsif," tulis akun @tarisymlm.
Keluhan tersebut berlanjut karena minimnya kepastian informasi dari petugas lapangan yang berjaga di lokasi.
"Tanya ke marshall lainnya medis mana, katanya ‘Enggak ada kak.’ Masa di kilometer kritis tapi medis susah banget ditemuin?" tulis akun @tarisymlm.
Akibat keterbatasan petugas, beberapa pelari yang memiliki latar belakang profesi dokter terpaksa berhenti untuk memberikan pertolongan darurat kepada peserta lain yang pingsan.
"Tadi pas cheering di 1 KM terakhir ada kakak-kakak yang pingsan, kedua kakak ini bener-bener ngurusin sampai pasiennya dibawa ambulance. Padahal kalau nurutin ego mah bisa aja tetep lari karena udah mepet waktu CoT juga, tapi kedua kakak ini enggak dong, mereka milih ngurusin peserta yang pingsan," tulis akun @ameliasantoso.
Aksi spontan pelari tersebut mencakup upaya pengaturan jalur evakuasi di tengah keterbatasan tindakan dari petugas resmi.
"Bahkan mereka juga yang neriakin peserta buka jalan buat ambulance dan neriakin medisnya pas gak sigap kasih oksigen," tulis akun @ameliasantoso.
Seorang dokter bernama Dhiya Ihsan dilaporkan harus menangani dua peserta sekaligus yang mengalami kolaps di lokasi yang berseberangan secara bersamaan.
"Special and most respect shout out ke dokter @dhiyaihsanr sudah support sesama peserta, beliau handle 2 peserta yang collapse di tempat yang bersebrangan dan sangat kebetulan saya ada di kedua peserta tersebut," tulis akun @hasbifz.
Kondisi ini memicu gelombang protes dari masyarakat yang membanjiri kolom komentar akun Instagram resmi BTN Jakim 2026 untuk mendesak evaluasi menyeluruh.
"Evaluasi tim medis dan marshall, walaupun ini sudah takdir, cuma untuk marshall dan medis tidak seperti itu penanganan di event internasional," tulis akun @rf.***_.
Ketiadaan petugas medis juga dilaporkan terjadi di beberapa titik krusial lain, termasuk di kawasan Kemang dan Blok M.
"Tim medis memang nggak banyak atau gimana? Banyak yang kram di KM 30-33 jalur full marathon daerah Kemang kayaknya sama sekali nggak ada medis. Di Blok M juga ada yang dibawa pakai tandu pas ditanya ‘Siapa tim medisnya?’ marshall pada jawab ‘Enggak tahu,’" tulis akun @riza****_.
Para peserta berharap adanya peningkatan fasilitas kesehatan pada penyelenggaraan acara serupa di masa mendatang.
"Improvement ke depan untuk panitia semoga di kilometer kritis, baik half marathon (HM) atau full marathon (FM) ada tim medis yang standby lebih banyak," tulis akun @ang****d.






