Saya ingat betul ketika Xiaomi Mi Watch Lite pertama kali diumumkan pada 10 Desember 2020 dan resmi dilepas ke pasar global pada 18 Desember 2020. Saat itu gawai ini menjadi idola baru bagi pemburu jam tangan pintar murah berkat GPS bawaan yang jarang ada di kelas harganya. Namun melihat posisinya sekarang di pertengahan tahun 2026, saya merasa perlu melihat kembali apakah jam kotak ini masih punya taji atau justru sudah layak masuk museum.
Ekspektasi orang tentu berubah drastis setelah lebih dari lima tahun berlalu.
Mari kita bedah secara jujur tanpa bumbu manis promosi.
Saat pertama kali melingkar di pergelangan tangan, bobot gawai ini langsung terasa sangat ringan. Berdasarkan data spesifikasi resmi, beratnya hanya sekitar 35 gram jika dihitung bersama strap bawaannya, atau cuma 21 gram kalau Anda menimbang modulnya saja. Ketebalannya mencapai 11,9 mm, terutama pada area sensor detak jantung yang sedikit menonjol di bagian belakang.
Dimensi fisiknya berada di angka 41 mm x 35 mm x 10,9 mm, sebuah ukuran yang menurut saya cukup proporsional untuk berbagai ukuran pergelangan tangan, baik pria maupun wanita. Desain layarnya berbentuk kotak tegas yang sekilas memang menyerupai jam tangan pintar premium dari kompetitor buah apel.
Namun material tidak bisa berbohong.
Bagian belakang dan bingkai jam ini sepenuhnya menggunakan bahan plastik. Ketika saya meraba permukaannya, sensasi bahan polikarbonat ini terasa sangat standar untuk standar industri zaman sekarang. Strap bawaannya menggunakan material TPU yang cukup lentur, tetapi setelah sekian lama, material seperti ini biasanya rentan menjadi kaku atau bahkan pudar warnanya.
Untuk kenyamanan harian, bobot ringannya memang menjadi nilai plus tersendiri.
Jam ini tidak membuat pergelangan tangan lelah meski dipakai tidur semalaman.
Hanya saja jika Anda mencari kesan premium atau elegan untuk dibawa ke acara formal, perangkat lawas ini jelas gagal memenuhi standar estetika tersebut.
Layar TFT LCD Lawas Melawan Terik Matahari
Sektor tampilan adalah area di mana penuaan teknologi pada gawai ini terasa paling menyakitkan. Perangkat ini menggunakan panel layar berukuran 1,4 inci dengan resolusi yang sebenarnya tidak terlalu buruk untuk ukurannya, yaitu 320 x 320 piksel. Angka ini menghasilkan kerapatan piksel sekitar 323 ppi dengan rasio aspek 1:1.
Rasio layar ke bodi hanya berada di kisaran 44,1% saja.
Artinya apa?
Bezel atau bingkai hitam di sekeliling layarnya terlihat sangat tebal untuk standar estetika modern.
Jenis panel yang digunakan adalah TFT LCD atau IPS LCD. Karakteristik panel ini tentu sangat berbeda dengan teknologi layar modern yang sudah menjamur di pasaran saat ini. Tingkat kecerahan tipikalnya hanya menyentuh 350 nits dengan cakupan warna NTSC sebesar 60% saja.
Untungnya Xiaomi sudah menyematkan fitur penyesuaian kecerahan otomatis pada masa itu. Fitur ini setidaknya membantu memompa kecerahan saat Anda berada di bawah sinar matahari langsung, walau panel TFT tetap akan terlihat agak buram jika dibandingkan dengan panel jenis lain yang lebih mutakhir.
Bagi saya, layar ini adalah kompromi terbesar.
Sudut pandangnya terbatas.
Warna hitam yang dihasilkan juga cenderung keabu-abuan, bukan hitam pekat yang memanjakan mata.
Daya Tahan Baterai 230 mAh di Tengah Tuntutan Modern
Di dalam bodinya yang kecil, tersemat baterai berkapasitas 230 mAh dari jenis Lithium Ion yang bersifat tidak bisa dilepas mandiri. Di atas kertas, produsen mengklaim bahwa daya tahan baterainya sanggup menyokong operasional perangkat hingga 10 hari dalam sekali pengisian daya secara penuh.
Apakah klaim tersebut riil?
Berdasarkan catatan pengujian di berbagai forum pengguna seperti Reddit, angka 10 hari itu hanya bisa dicapai jika Anda mematikan sebagian besar fitur pemantauan intensif. Jika Anda mengaktifkan pelacakan detak jantung secara terus-menerus dan sering menggunakan GPS bawaan untuk berolahraga, daya tahannya akan merosot tajam ke angka sekitar 4 sampai 5 saja.
Berikut adalah rincian spesifikasi teknis utama yang dimiliki oleh gawai rilisan akhir 2020 ini:
| Komponen | Spesifikasi Resmi |
|---|---|
| Dimensi | 41 mm x 35 mm x 10,9 mm |
| Bobot | 35 gram (dengan strap) |
| Jenis Layar | TFT LCD / IPS LCD |
| Ukuran Layar | 1,4 inci |
| Resolusi | 320 x 320 piksel |
| Kapasitas Baterai | 230 mAh |
| Daya Tahan Maksimal | 10 hari |
| Bahan Bingkai | Plastik |
Sistem pengisian dayanya masih menggunakan dok khusus yang harus ditancapkan ke bagian belakang bodi jam. Proses pengisiannya memakan waktu kurang lebih dua jam dari kondisi kosong hingga penuh, sebuah durasi yang menurut saya biasa saja, tidak lambat tapi juga tidak bisa dibilang instan.
Perbandingan Menyakitkan dengan Standar Industri Masa Kini
Untuk melihat seberapa jauh teknologi telah melompat, kita bisa melirik perangkat modern yang beredar di pasar saat ini, seperti salah satu contohnya adalah REDMI Watch 5 Lite. Perbedaan spesifikasi di antara kedua perangkat ini bagaikan bumi dan langit, mencerminkan evolusi gawai pakai selama rentang waktu lima tahun terakhir.
Mari kita lihat perbedaannya secara objektif:
- Teknologi dan Ukuran Layar: Perangkat lawas hanya memakai TFT LCD 1,4 inci tanpa fitur layar siaga, sedangkan model modern sudah dibekali layar 1,96 inci AMOLED ultra-clear yang memiliki rasio layar ke bodi mencapai 75,80% serta mendukung fitur Always-On Display (AOD).
- Kapasitas dan Manajemen Daya: Baterai 230 mAh pada model lama harus bertekuk lutut di hadapan kapasitas 470 mAh milik generasi baru yang diklaim mampu bertahan hingga 18 hari untuk penggunaan tipikal, atau 7 hari bahkan dengan mode AOD yang terus aktif.
- Estetika Fisik: Jika model lama menggunakan bodi plastik yang tampak kusam, lini baru kini hadir dengan sentuhan high-gloss NCVM middle frame yang jauh lebih modis dengan varian warna menarik seperti Light Gold dan Black, serta opsi strap warna-warni mulai dari Lemon Yellow, Mint Green, hingga Candy Pink.
Melihat perbandingan mendalam tersebut, sulit rasanya untuk mengabaikan fakta bahwa perangkat rilisan 2020 ini sudah kedaluwarsa secara fungsionalitas dan tampilan.
Fitur pelacakan olahraganya memang masih berfungsi.
GPS internalnya juga tetap bisa mengunci posisi Anda saat berlari pagi tanpa perlu membawa ponsel pintar.
Namun, kecepatan mengunci sinyal satelit dan akurasi sensor detak jantung lamanya jelas sudah tertinggal jauh oleh algoritma pelacakan modern yang jauh lebih presisi dan hemat daya.
Membeli Xiaomi Mi Watch Lite dalam kondisi baru di tahun 2026 sama sekali bukan keputusan yang bijak karena ekosistem aplikasi pendukungnya pun sudah mulai menghentikan dukungan optimal untuk perangkat lawas ini. Jika Anda masih memilikinya dan jam tersebut masih menyala normal, silakan pakai hingga rusak untuk sekadar melacak langkah kaki harian. Namun jika Anda berencana membelinya dari pasar barang bekas dengan harapan mendapatkan jam pintar GPS murah, sebaiknya urungkan niat tersebut dan alihkan anggaran Anda ke lini produk yang lebih segar demi mendapatkan kenyamanan layar AMOLED dan ketahanan baterai yang jauh lebih superior.







