Oleh: Gilang Gusti Aji*
Ada masa ketika setiap penyelenggaraan Piala AFF—yang dulu masih bernama Piala Tiger—menjadi momen yang paling dinantikan oleh para penggemar tim nasional Indonesia.
Di turnamen yang dianggap paling bergengsi di kawasan Asia Tenggara itu, harapan besar selalu disematkan agar Indonesia akhirnya mampu mengangkat trofi yang hingga kini belum pernah berhasil diraih.
Enam kali Indonesia begitu dekat dengan gelar juara, mulai edisi 2000, 2002, 2004, 2010, 2016, hingga 2020. Enam kali pula harus puas menjadi runner-up.
Pada masa itu, keberhasilan di Piala AFF, bersama medali emas SEA Games, menjadi salah satu tolok ukur utama kesuksesan tim nasional.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, cara pandang tersebut perlahan berubah. Seiring meningkatnya prestasi tim nasional di level Asia, terutama setelah mampu menembus putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026, mulai muncul anggapan bahwa Piala AFF tidak lagi sepenting dahulu.
Ambisi sepak bola Indonesia pun terasa bergeser. Jika dahulu menjadi yang terbaik di Asia Tenggara sudah dianggap sebagai pencapaian tertinggi, kini publik mulai membayangkan Indonesia mampu bersaing secara lebih konsisten di level Asia.
Memang wajar jika standar keberhasilan sepak bola Indonesia kini semakin tinggi. Namun, apakah itu berarti Piala AFF tidak lagi penting? Jika masih dianggap penting, apa sebenarnya makna yang membuat turnamen ini tetap layak diperjuangkan?
Bukan lagi Tujuan Utama
Kesadaran bahwa Piala AFF tidak lagi dipandang sepenting dahulu tidak hanya disebabkan meningkatnya capaian tim nasional Indonesia di level Asia. Ada pula pertimbangan yang bersifat teknis yang membuat banyak pengamat maupun pendukung menilai bahwa AFF bukan lagi turnamen yang harus menjadi prioritas utama.
Pertimbangan teknis tersebut kemudian melahirkan cara pandang bahwa penting tidaknya sebuah kompetisi ditentukan oleh kontribusinya terhadap target yang lebih besar. Dalam kerangka berpikir ini, sulit membantah bahwa Piala AFF bukanlah prioritas utama sepak bola Indonesia.
Berbeda dengan Kualifikasi Piala Dunia atau Piala Asia yang menjadi jalur menuju kompetisi berikutnya, AFF tidak memberikan tiket ke ajang yang lebih tinggi. Turnamen ini juga berlangsung di luar FIFA Match Window sehingga negara peserta tidak selalu dapat menurunkan kekuatan terbaiknya karena klub tidak berkewajiban melepas pemain.
Dari sisi teknis, kontribusi AFF terhadap peningkatan peringkat FIFA maupun pencapaian target jangka panjang tim nasional pun relatif terbatas.
Cara pandang tersebut sebenarnya mencerminkan pola pikir yang wajar dalam olahraga modern. Ketika tujuan utama sebuah negara adalah tampil di ajang tertinggi seperti Piala Dunia atau dalam konteks Indonesia ialah bersaing di level Asia, maka kompetisi yang paling diprioritaskan tentu adalah yang memberikan manfaat langsung untuk mencapai tujuan tersebut. Ini membuat nilai sebuah turnamen diukur dari sejauh mana ia membantu mencapai sasaran yang lebih besar.
Rivalitas menjadi Penguasa Kawasan
Jika ukuran penting sebuah turnamen hanya ditentukan oleh manfaat kompetitifnya, maka Piala AFF memang tidak memiliki posisi yang istimewa.
Namun, sepak bola tidak hanya dibangun oleh logika kompetisi. Ada makna simbolik yang membuat sebuah turnamen tetap bernilai. Atas dasar ini mungkin Piala AFF masih punya urgensi bagi Indonesia.
Pertama, setiap kawasan memiliki panggung untuk menegaskan siapa yang menjadi penguasa regional. Eropa memiliki Euro (Piala Eropa), Amerika Selatan memiliki Copa América, Afrika memiliki Piala Afrika, Amerika Utara dan Tengah memiliki Gold Cup, sementara Asia Timur memiliki EAFF Championship.
Turnamen-turnamen tersebut tidak selalu menjadi jalan menuju Piala Dunia, tetapi tetap dipandang bergengsi karena menghadirkan legitimasi sebagai tim terbaik di kawasannya. Asia Tenggara pun memiliki simbol yang sama melalui Piala AFF.
Oleh karena itu, menjadi juara AFF bukan sekadar menambah koleksi trofi, melainkan memperoleh pengakuan sebagai penguasa sepak bola Asia Tenggara. Bagi Indonesia, makna tersebut terasa semakin relevan karena trofi itu hingga kini masih belum pernah diraih.
Makna simbolik tersebut semakin kuat karena Piala AFF dibangun di atas rivalitas yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Kalau bicara lintasan sejarah, rivalitas Indonesia-Thailand selalu menjadi tolok ukur persaingan dua negara dengan tradisi sepak bola terkuat di Asia Tenggara di era 90an akhir hingga 2000an awal. Tim Gajah Putih selalu menjadi batu sandungan bagi timnas untuk meraih gelar. Thailand bahkan menjadi sebuah standar yang harus dilampaui bila ingin menjadi raja asia tenggara.
Ada pula rivalitas negara tetangga satu rumpun yang selalu menghasilkan pertandingan penuh drama. Laga melawan Malaysia menghadirkan gengsi yang melampaui hasil akhir karena dipengaruhi oleh sejarah panjang hubungan kedua negara.
Salah satu puncaknya mungkin ada pada kekalahan yang mematahkan hati seluruh pendukung Indonesia tahun 2010. Timnas yang optimisme membumbung tinggi karena tampil meyakinkan, termasuk mengalahkan Malaysia di babak penyisihan, mesti mengakui keunggulan dari negara tetangga di final dalam pertandingan yang diwarnai banyak cerita selepas pertandingan.
Jika Thailand merepresentasikan rivalitas perebutan supremasi kawasan dan Malaysia identik dengan rivalitas historis yang sarat gengsi, maka Vietnam mencerminkan rivalitas generasi baru.
Kebangkitan sepak bola Vietnam dalam satu dekade terakhir membuat setiap pertemuan kedua negara selalu dipenuhi tensi tinggi, baik di dalam maupun di luar lapangan.
Persaingan itu bahkan kerap meluas menjadi perang urat saraf melalui komentar pelatih, pemberitaan media, hingga insiden antarpemain yang semakin mempertebal rivalitas kedua negara. Doãn Văn Hậu akan menjadi sebuah nama yang mewakili rivalitas tersebut.
Tanpa mengecilkan perkembangan negara lain, Rivalitas-rivalitas inilah yang membuat setiap edisi Piala AFF selalu memiliki emosi, cerita, dan daya tarik yang sulit ditemukan dalam pertandingan persahabatan atau kompetisi lain di luar kawasan.
Pada saat yang sama, Piala AFF juga memiliki fungsi yang sangat strategis bagi perkembangan tim nasional. Turnamen ini memberikan ruang bagi pelatih untuk menguji pendekatan taktik, membangun chemistry antarpemain, sekaligus memberi pengalaman bertanding kepada pemain muda dalam atmosfer kompetisi yang kompetitif.
Tidak semua proses pembentukan tim ideal dilakukan di pertandingan yang langsung menentukan nasib di Kualifikasi Piala Dunia. Oleh karena itu, Piala AFF tetap menjadi ruang latih yang penting untuk mempersiapkan fondasi tim nasional menghadapi tantangan yang lebih besar.
Pada akhirnya, meski tidak berkorelasi dengan tujuan akhir kita, menjadi penguasa kawasan tetap penting dalam tujuan memperoleh legitimasi, membangun mentalitas juara, dan menegaskan posisi sebelum bersaing di level yang lebih tinggi.
Betapapun standar yang kita yakini sekarang adalah bicara di level Asia atau mungkin menembus Piala Dunia tidak harus menghapus ambisi menjadi yang terbaik di Asia Tenggara.
Sebagai pendukung tim nasional, kita tidak pernah memilih di turnamen mana Indonesia layak menjadi juara. Selama Garuda bertanding membawa nama bangsa, selalu ada harapan untuk melihat Merah Putih berdiri di podium tertinggi.
Selamat menyaksikan Piala AFF. Selamat Berjuang Timnas Garuda. Mari tuntaskan penantian panjang.






