Perusahaan AI Borong dan Hancurkan Buku Langka untuk Data di Silicon Valley

5 Agustus 2026, 15:32 WIB

Perusahaan Artificial Intelligence (AI) di Silicon Valley membuat gebrakan kontroversial dengan membeli dan menghancurkan buku langka sebagai sumber data untuk pengembangan teknologi AI, dilansir dari Detikcom.

Proyek ini melibatkan pembelian ratusan hingga ribuan buku dari toko buku langka di berbagai negara, termasuk toko di Haarlem, Belanda milik Pieter de Vries. Pada Juni 2026, De Vries menerima tawaran membeli 3.000 judul buku dari perusahaan AI yang membuatnya curiga.

Setelah dibeli, buku-buku tersebut dipindai menggunakan mesin berkecepatan tinggi dan kemudian dihancurkan untuk menghindari pelanggaran hukum hak cipta, sebuah praktik yang menjadi kontroversi global.

Pieter de Vries menjelaskan, "Jadi jika seseorang datang dan berkata 'Saya ingin beberapa ratus buku Anda' itu sangat aneh." Ia adalah salah satu dari ratusan pedagang buku langka yang dihubungi perusahaan AI tersebut.

Perusahaan AI Anthropic yang merekrut mantan eksekutif Google Books, Tom Turvey, menjadi pusat dari proyek ini sejak Februari 2024. Tujuan mereka adalah mengumpulkan semua buku di dunia sebagai bahan bakar untuk melatih model AI mereka.

Penjual buku bekas dan dosen sastra Marcal Font i Espi menjelaskan, "Perusahaan AI kini telah kehabisan data atau yang disebut dengan data wall. Untuk bisa berkembang, AI membutuhkan 'karya buatan manusia'."

Kasus ini berujung pada putusan pengadilan California yang menyatakan bahwa pemindaian digital dan penghancuran fisik buku bukan pelanggaran hak cipta karena dianggap sebagai tindakan transformasi, bukan penggandaan.

Tom Turvey sempat menghubungi penerbit untuk mendapatkan lisensi buku, namun kemudian beralih membeli buku secara grosir dari distributor dan toko buku. Proses ini menghabiskan jutaan dolar dan melibatkan pemotongan halaman buku dengan mesin hidrolik.

Putusan hakim membuka celah hukum bagi perusahaan AI untuk membeli dan menghancurkan buku bekas setelah pemindaian cepat, dibandingkan harus bernegosiasi dengan penerbit.

Keputusan ini mendapat kecaman dari pegiat hak cipta. Profesor hukum digital James Grimmelmann menyatakan hukum hak cipta AS memperlakukan semua buku sebagai salinan tanpa memperhatikan dokumen fisik.

Marcal Font i Espi menegaskan, "Saya tidak menentang AI. Saya paham bahwa buku dan pengetahuan lama harus ditransfer ke format baru. Namun, tujuannya haruslah mendigitalisasinya dengan benar, bukan menghancurkan dokumen aslinya."

Elon Musk, pemilik SpaceX, juga mengomentari fenomena ini dengan menegaskan tim AI SpaceX tidak menghancurkan buku dan berusaha melestarikan buku langka dengan metode pemindaian yang lebih hati-hati.

"Saya telah meminta tim AI SpaceX untuk melestarikan buku-buku langka di perpustakaan dan memindainya dengan cara yang lebih sulit daripada sekedar memotong jilidannya dan memindainya," ujar Musk.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari Ihram.co.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang